Sabtu, 4 Januari 2014

Secebis Kisah Kebijaksanaan Imam Ahmad Bin Hanbal


Imam Az-Zahabi meriwayatkan kisahnya dari Al Muhtadi Billah Muhammad bin Al -Wathiq, anak kepada khalifah Al -Wathiq dalam kitabnya Siyaru A’laamin Nubalaa’ juz XI :312, ini ceritanya:

Berkata Al Muhtadi Billah Muhammad bin Al Wathiq: “Dahulu ayahku (Khalifah Al-Wathiq) bila hendak membunuh seseorang, ia mengajak kami menyaksikannya. Suatu saat dihadapkan kepadanya seorang lelaki tua yang disemir rambutnya dalam keadaan terikat”. (Orang tua ini adalah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal Rahimahullah). Ayahku itu berkata: “Izinkan Abu Abdillah (Ibnu Abi Duad, kuniyahnya sama dengan Imam Ahmad) beserta para sahabatnya untuk masuk”. Yang dimaksudkan adalah Ibnu Abi Duad. Perawi berkata: “Maka masuklah orang tua itu (Imam Ahmad)”. Orang itu berucap: “Assalamu’alaika Yaa Amiral Mukminin”. (semoga keselamatan atas dirimu). Beliau (Al Watsiq) menjawab: “Laa Sallamallahu ‘Alaika.” (semoga Allah tidak memberikan keselamatan atas kamu). Lelaki itu membalas: “Sungguh hina cara kamu memberikan salam. Padahal Allah Ta’ala berfirman (yang beerti):


“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An Nisaa’ : 86)

Ayahku pun membalas salamnya: “Waalaikasalam!” balasnya, kemudian berkata kepada Ibnu Abi Duad: “Tanyalah kepadanya!”

Syaikh itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, saya dalam keadaan terikat seperti ini, saya mengerjakan solat dalam  penjara dengan bertayamum, saya tidak diberi air. Lepaskanlah dahulu ikatan saya ini dan berilah saya air agar saya dapat bersuci dan mengerjakan solat setelah itu tanyalah apa yang ingin ditanyakan padaku.”

Lalu ayahku memerintahkan para pengawal agar melepas ikatannya dan memberinya air. Imam Ahmad berwudhu lalu mengerjakan solat. Kemudian ayahku berkata kepada Ibnu Abi Duad: “Tanyalah kepadanya!”

Ibnu Abi Duad berkata: “ Lelaki itu (Imam Ahmad) pandai berkata-kata.”

Maka ayahku berkata: “Ajaklah ia bicara.”

Ibnu Abi Duad bertanya: “ Apakah pendapatmu mengenai Al Qur’an?”

Lelaki tua itu menjawab: “Dia tidak bersikap adil terhadapku. Aku yang seharusnya bertanya.”

Ayahku (Al Wathiq) berkata: “Tanyalah kepada Ibnu Abi Duad.”

Lelaki itu bertanya: “Apakah pendapatmu mengenai Al Qur’an?”

Ibnu Abi Duad menjawab: “Al Qur’an itu makhluk (bukan kalam Illahi)!”

Syaikh (lelaki tua) itu bertanya lagi: “Apakah ucapan itu adalah sesuatu yang sudah diketahui oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Al Khulafa’ Ar Rasyidun yang lain atau belum?”

Ibnu Abi Duad menjawab: ”Belum.”

Lelaki itu berkata: “Maha Suci Allah, sesuatu (masalah agama) yang tidak diketahui Nabi, namun kamu mengetahuinya?!”

Ibnu Abi Duad menjadi malu. Lalu ia berkata: “Beri aku kesempatan lagi!”

Lelaki tua itu berkata lagi: “Pertanyaannya tetap sama.”

Ibnu Abi Duad menjawab: “Ya, mereka telah mengetahuinya.”

Lelaki tua itu bertanya lagi: “Mereka mengetahuinya, namun tidak mendakwahkannya kepada manusia?”

Ibnu Abi Duad menjawab: “Benar”.

Lelaki tua itu bertanya lagi: “Apakah yang cukup bagi mereka lakukan tidak cukup bagimu?”

Syaikh itu berkata lagi : “Suatu perkara yang tidak didakwahkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam ,tidak pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu anhum, lalu kamu mendakwahkannya kepada umat manusia??  Tidak boleh tidak kamu harus berkata: ”Mereka (Para shahabat) mengetahuinya atau mereka tidak mengetahuinya”. Jika kamu katakan : ”Mereka mengetahuinya! Namun mereka tidak menyuarakannya, maka cukuplah bagi kita semua apa yang telah cukup bagi mereka, iaitu tidak menyuarakannya!!  Jika kamu katakan: ”Mereka tidak mengetahuinya! Tetapi sayalah yang mengetahuinya! Maka sungguh celaka kamu ini!! Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan para khulafa-ur Rasyidin radhiallahu anhum tidak mengetahuinya sementara kamu dan sahabat-sahabat kamu mengetahuinya!!”

Al Muhtadi berkata: ”Aku lihat ayahku langsung berdiri dan masuk ke dalam taman, ia tertawa sambil menutup wajahnya dengan bajunya dan berkata: ”Benar juga, tidak boleh tidak, kita harus mengatakan: ”Mereka mengetahuinya atau mereka tidak mengetahuinya”. Jika kita katakan: ”Mereka mengetahuinya! Namun mereka tidak menyuarakannya, maka cukuplah bagi kita semua apa yang telah cukup bagi mereka, iaitu tidak menyuarakannya! Jika kita katakan: “Mereka TIDAK mengetahuinya! Kamulah yang mengetahuinya, maka sungguh celaka kita ini!! Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan para Khulafa-ur Rasyidin radhiallahu anhum tidak mengetahuinya sementara kamu dan sahabat kamu mengetahuinya?!”

Kemudian ayahku berkata: ”Hai Ahmad!”

“Laabaika!“, Jawabnya. (Imam Ahmad bin Hambal)

“Bukan kamu yang saya maksudkan,tapi Ahmad bin Abi Duad!”, sahut ayahku.

Maka Ibnu Abi Duad pun segera mendatanginya, ayahku berkata: ”Berilah Syaikh ini nafkah dan keluarkanlah dari negeri kita!”

[Dalam riwayat as Siyaar: ”Beliau lalu menyuruh orang membuka ikatan lelaki tua itu dan memberikan kepadanya 400 dinar,lalu membenarkannya pulang. Semenjak itu Ibnu Abi Duad dipandang sebelah mata oleh Khalifah Al Watsiq, dan setelah itu ayahku tidak pernah menguji orang dengan keyakinan sesat tersebut.]

Dalam riwayat lain: Al Muhtadi berkata: saya pun bertaubat dari pegangan yang sesat tersebut dan saya kira semenjak saat itu ayah saya pun bertaubat darinya”


(Imam Adz Dzahabi meriwayatkan kisah ini dari Al Muhtadi Billah Muhammad bin Al Wathiq, anak kepada khalifah Al Wathiq di kitabnya Siyaru A’laamin Nubalaa’ juz XI :312)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Asma'ul Husna

asma ul husna